Cara Agar Menjadi Pusat Perhatian saat Berkomunikasi

   Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari komunikasi. Komunikasi memang sangatlah penting. Dengan berkomunikasi, kita dapat bertukar informasi dengan orang lain. Kita juga bisa memberikan respon atau tanggapan kepada lawan bicara kita. 
      Interaksi dan komunikasi yang dibangun di antara individu atau kelompok adalah relasi "pertukaran digital". Orang-orang melakukan transaksi maupun komunikasi melalui simbol-simbol digital digerakkan dengan teknologi serba digital seperti komputer, internet, mesin ATM, telepon, dan lain sebagainya. Tidak ada masyarakat yang tidak mengalami perubahan. Masyarakat akan selalu mengalami pergantian (perubahan) yang signifikan mengenai struktur sosial dalam kurun waktu tertentu (Martonk, 2011).
  Pusat perhatian merupakan salah satu bagian dari ruang lingkup sosiologi komunikasi. Ruang lingkup kajian sosiologi, yaitu pengaruh atau akibat-akibat sosial yang terjadi atau ditimbulkan oleh komunikasi. Dalam hal ini yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana masalah sosial itu terjadi. Pusat perhatian dalam komunikasi adalah orang yang terlihat menonjol dalam menyampaikan suatu pesan atau gagasan kepada dua orang atau lebih. Oleh karena itu, dalam berkomunikasi terdapat beberapa cara agar lawan bicara memperhatikan kita sebagai pembicara dalam penyampaian sebuah pesan diantaranya sebagai berikut:
1. Kontak mata, hal pertama yang dilakukan seorang pembicara yang baik adalah menatap lawan bicara dan mengambil jeda untuk memulai sebuah pembicaraan.
2. Ekspresi wajah
3. Gasture tubuh
4. Busana
5. Gunakan kalimat seefektif mungkin
6. Jangan mengungkapkan pengulangan ide      atau pokok bahasan
7. Jangan berbicara terlalu lambat dan
    volume suara pelan
8. Hindari gumaman yang terlalu sering
9. Hindari humor yang tidak perlu
    Dalam buku yang berjudul Komunikasi Antarpersonal yang ditulis oleh Alo Liliweri, menjelaskan bahwa dalam berkomunikasi terdapat empat jenis hambatan dalam berkomunikasi yaitu: hambatan proses, hambatan fisik, hambatan semantik, dan hambatan psikososials (Eisenberg, 2010). Adanya sebuah hambatan tentunya akan menimbulkan beberapa dampak negatif bagi seseorang yang menjadi pusat perhatian dalam berkomunikasi, seperti: merasa tidak nyaman, memiliki rasa kurang percaya diri atau grogi, dll. Namun ada pula dampak positif bagi seseorang yang menjadi pusat perhatian, yaitu: memiliki rasa percaya diri yang kuat sehingga mampu mengendalikan diri dengan situasi apapun itu.
 Tanpa membedakan keberadaan komunikasi pada semua level maka pada prinsipnya semua komunikasi, mulai dari komunikasi antarpersonal, kelompok, organisasi, publik, dan komunikasi massa, mempunyai fungsi dan tujuan yangh sama sebagaimana sebagai berikut: agar, (1) saya ingin dimengerti orang lain (to be understood), (2) saya dapat mengerti orang lain (to understand others), (3) saya ingin diterima orang lain (to be accepted), dan (4) agar saya dan orang lain bersama-sama memperoleh sesuatu yang harus dikerjakan bersama (to get something done). (Griffin, 2010; Allan, 1984; Robbins, 2009; Spitzberg, 1984).
    Dapat disimpulkan bahwa semua orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam berkomunikasi, kita tidak bisa menuntut semua orang harus sama dalam proses penyampaiannya. Maka dari itu kita harus menerima sebaik mungkin apa yang telah disampaikan pembicara, hargai pendapat orang lain jika ingin dihargai juga pendapat kita, dan gunakanlah bahasa yang sopan ketika menyampaikan sebuah komentar atau saran agar tidak melukai hati pihak manapun. 

Sumber:
Buku yang berjudul Sosiologi Komunikasi (Dinamika Relasi Sosial di dalam Era Virtualitas) ditulis oleh Mahyuddin, M.A.
Buku berjudul Komunikasi Antar Personal ditulis oleh Prof. Dr. Alo Liliweri, M.S.
https://aprodiarc.wordpress.com/2015/05/01/beberapa-hal-yang-membuat komunikasi-menjadi efektif/
https://hedisasrawan.blogspot.com/2012/12/sosiologi-komunikasi-artikel lengkap.html

Komentar